Logo

Revitalisasi Peran Orang Tua sebagai Kunci Keberhasilan Generasi Berikutnya

Azaria, Sally (2015) Revitalisasi Peran Orang Tua sebagai Kunci Keberhasilan Generasi Berikutnya. In: Selamatkan Generasi Bangsa dengan Membentuk Karakter Berbasis Kearifan Lokal, 13-06-2015 - 13-06-2015, Surakarta - Indonesia.

[img] PDF
Download (5Mb)
    [img]
    Preview
    PDF (cek plagiasi)
    Download (5Mb) | Preview
      [img]
      Preview
      PDF (peerreview)
      Download (669Kb) | Preview

        Abstract

        Orang tua adalah kunci utama yang menentukan bagaimana generasi berikutnya menjadi lebih baik. Pernyataan ini sebenarnya secara tidak langsung sudah disadari oleh masyarakat, contohnya falsafah budaya Jawa, yaitu bibit bebet bobot dalam menentukan pasangan hidup. Bibit di sini adalah berarti melihat siapa dan bagaimana keluarga (dalam hal ini adalah orang tua) calon pasangannya. Selain itu, beberapa pakar juga mendukung hal ini, salah satunya adalah Peter L. Berger (1990) yang menekankan akan pentingnya orang tua. Berger menjelaskan bahwa budaya terjadi ketika konstruksi sosial (eksternalisasi) terbentuk, yaitu internalisasi (proses sosialisasi, termasuk dari orang tua) dan objektivasi (proses dialog dalam diri individu) yang membentuk suatu realitas sosial, yaitu budaya itu sendiri. Ada tiga jenis orang tua dalam memandang peran penting mereka. Yang pertama adalah orang tua yang benar-benar tidak menyadari peran penting mereka dalam menentukan kualitas generasi berikutnya. Banyak diantara mereka hanya menitikberatkan pada pemenuhan tanggung jawab secara ekonomi, yaitu mewariskan uang bagi anak mereka. Seringkali, oleh karena kesibukan dan tuntutan hidup, orang tua mengabaikan sisi mewariskan nilai-nilai yang benar. Padahal dengan berbuat ini, mereka sedang membentuk generasi selanjutnya menjadi memandang sesuatu hanya dari sisi ekonomi saja. Jenis kedua adalah orang tua yang menyadari tetapi men-down-grade peran sebagai orang tua. Mereka yang ada dalam kategori ini biasanya �menyerah� dengan diri mereka, �ya seperti ini lah saya�. Pendapat lainnya, anak bebas menentukan nilai hidup mereka, anak bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Padahal ada fase usia anak di mana anak benar-benar meniru apa yang di sekeliling mereka (orang tua) baru di fase usia selanjutnya mereka bisa menentukan. Kelompok ketiga adalah mereka yang menyadari dan menjalankan peran pentingnya sebagai orang tua. Tulisan ini membahas secara mendalam cara merevitalisasi ketiga jenis orang tua di atas. Dengan demikian diharapkan semua orang tua menyadari pentingnya peran mereka sehingga bisa menghasilkan generasi berikutnya yang lebih baik.

        Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
        Additional Information: oleh karena ada banyak penulis maka artikel saya terletak di halaman kedua dari website UMS (halaman pertama cover dan sebagian table of content) https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/6425 paling bawah klik view more maka akan ketemu halaman keduatable of content di mana ada nama saya di sana (halaman kedua table of content lanjutannya, tanpa cover) https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/6425/recent-submissions
        Uncontrolled Keywords: Orang Tua, Revitalisasi, Sosialisasi, Anak
        Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
        Divisions: UNSPECIFIED
        Depositing User: Admin
        Date Deposited: 22 May 2019 21:38
        Last Modified: 22 Jul 2019 11:09
        URI: http://repository.petra.ac.id/id/eprint/18283

        Actions (login required)

        View Item