Logo

Komunikasi Politik: Memahami Dari Sisi Kepribadian dan Pemikiran Politik Soekarno dan Soeharto

Priyowidodo, Gatut (2018) Komunikasi Politik: Memahami Dari Sisi Kepribadian dan Pemikiran Politik Soekarno dan Soeharto. Komunikasi . PT Rajawali Pers DEPOK-JAKARTA. ISBN 978-602-425-573-2

[img] PDF
Download (1733Kb)
    [img]
    Preview
    PDF (cek plagiasi)
    Download (671Kb) | Preview
      [img]
      Preview
      PDF (peerreview)
      Download (540Kb) | Preview

        Abstract

        Soekarno (06 Juni 1901�21 Juni 1970) ibarat buku kajian yang tidak pernah habis-habisnya selesai dibaca. Episode kehidupannya bisa dinarasikan menjadi apapun sesuai dengan kepentingan. Soekrno muda adalah aktivis dan pemikir, Soekarno dewasa adalah komunikator politik dan negarawan dan Soekarno tua adalah politisi dan tawanan. Soekarno misalnya ketika membuat keputusan Indonesia keluar dari PBB, tidak perlu pertimbangan bahwa kelak Indonesia akan terisolasi dari percaturan politik internasional. Logika seperti itu dieliminasi dari cara berpikirnya yang rasional. Ia lebih nyaman dengan intuisi sebagai penggerak keberanian di luar nalar, untuk bermain dalam wilayah high risk termasuk resiko dikucilkan. Baginya, memimpin negara baru merdeka dari kolonialisme jauh lebih prestis ketimbang menjadi antek kolonialisme-imperialisme dalam baju PBB. Strategi dan komunikasi politik, terus dioptimalkan agar negara-negara baru itu merasa memiliki dignity atau martabat yang setara dengan negara lain. Maka sang Putra Fajar, demikian ia disebut menjelang kelahiranya mengambil inisiatif agar negara-negara Asia-Afrika bersatu untuk menunjukan kepada dunia sebagai poros kekuatan yang harus diperhitungkan. Keberanian dalam bermanuver dalam pentas politik internasional ataupun domestik seakan meneguhkan bahwa Soekrno adalah sosok yang ditunggu kedatangannya untuk Indonesia yang penuh mitos. Lama diyakini bahwa apa yang diramalkan oleh Jayabaya terkait datangnya sang Ratu Adil ibarat seteguk air ditengah dahaga yang berkepanjangan. Soekarno sedang meneguhkan sebuah ramalan bahwa raja itu telah datang untuk Indonesia yang tertindas. Keyakinan itu semakin membumbung tatkala, Tjokroaminoto yang dikenal sebagai raja Jawa yang tak pernah dinobatkan (istilah Dahm) tak banyak memiliki pengaruh absolut dalam perkembangan pemikiran politik Soekarno muda, walaupun ia tetap tokoh yang mengesankan bagi Soekarno. Sedang Soeharto (08 Juni 1921 � 27 Januari 2008) dianggap lebih dari seorang negarawan / birokrat ketimbang seorang pemikir oleh sebab keringnya gagasan yang spektakuler apalagi mengejutkan dunia. Langgam pembahwannya yang tenang, murah senyum, enggan berbicara di depan pers semakin menyakinkan penulis bahwa figur Soeharto adalah sosok pribadi yang tepat (walau tidak sangat tepat) ketika Orde Baru berkuasa. Betapapun ia tandus dengan ide�ide yang brillian namun kekurangan tersebut telah berhasil ia tutupi dengan kemampuannya mengelola orang secara baik. Meski caranya merebut kekuasaan dari Soekarno masih diperdebatkan konstitusional atau inkonstusioal, ia tetap sosok flamboyan yang sangat lihai dalam menyembunyikan ambisi-ambisi politiknya. Kemampuan Soeharto, lebih diorientasikan kepada tendensi ke arah profesionalisme menegerial kenegaraan. Latar belakang keprajuritan dan memimpin anak buah selama dinas di kemiliteran, secara langsung atau tidak semakin memprosesnya sebagai sosok militer yang profesional dalam olah kepemimpinan organisasi. Empat bidang kategori yakni ideologi, demokrasi, ekonomi dan politik luar negeri adalah empat wilayah kajian yang penulis pilih sebagai ranah eksplorasi. Tentu dalam keempat topik tersebut Soekarno dan Soeharto selain memiliki persamaan-persamaan juga ditemukan sejumlah perbedaan-perbedaan. Hasil kajian ini seakan mengkonfirmasi kesan publik jika Soeharto yang dianugerahi Bapak Pembangunan ini, lebih banyak menduplikasi atau paling jauh melakukan eksplorasi terkait ide-ide lama yang sudah ada. Sesuatu yang bersifat ide orisinalitas atau inovatif, agaknya tidak terlalu menonjol. Pemikiran � pemikiran yang digagas senantiasa diupayakan untuk kembali ke sumber dasarnya. Kemampuannya dibidang sinkretisasi dan eksprementasi amat sedikit (jikalau tak boleh dikatakan tidak ada) dalam ke empat elemen komparasi di atas. Melalui buku ini pembaca juga diajak memberikan penilaian dari perspektif sendiri, apakah penilaian penulis ini benar adanya atau justru melenceng jauh.

        Item Type: Book
        Additional Information: Buku teks untuk Mata Kuliah Komunikasi Politik
        Subjects: H Social Sciences
        Divisions: Faculty of Communication Science > Communication Science Department
        Depositing User: Admin
        Date Deposited: 31 Jul 2018 19:46
        Last Modified: 17 Sep 2019 05:41
        URI: http://repository.petra.ac.id/id/eprint/17903

        Actions (login required)

        View Item